Pengertian Kebutuhan
Kebutuhan hidup seseorang mengalami perubahan-perubahan, sejalan dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangannya. Kebutuhan sosial psikologis semakin banyak dibandingkan dengan kebutuhan fisik, karena pengalaman kehidupan sosialnya semakin luas. Kebutuhan itu muncul disebabkan oleh dorongan-dorongan (motif). Dorongan adalah keadaan dalam pribadi seseorang yang mendorongnya untuk melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu (Sumadi, 1971 : 70; Lefton, 1982: 137).
Kebutuhan secara umum dapat dibedakan menjadi 2, yaitu :
1. Kebutuhan primer
Kebutuhan primer pada hakikatnya merupakan kebutuhan biologis atau organik dan umumnya merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif asli.
Contoh : makan, minum, bernafas, dan kehangatan tubuh.
2. Kebutuhan sekunder
Kebutuhan sekunder merupakan kebutuhan yang didorong oleh motif yang dipelajari.
Contoh : kebutuhan untuk mengejar pengetahuan, kebutuhan untuk mengikuti pola hidup bermasyarakat, kebutuhan akan hiburan, dll.
Menurut Coleoan Brace (1959) (Oxendine, 198: 227) kebutuhan ada 2 kelompok, yaitu :
1. Kebutuhan fisiologis (contoh : makan, minum, istirahat, seksual, dan perlindungan diri)
2. Kebutuhan psikologis (contoh : kebutuhan untuk memiliki sesuatu, kebutuhan akan
cinta dan kasih sayang, kebutuhan akan keyakinan diri dan kebutuhan akan aktualisasi
diri).
Dalam bidang kehidupan ekonomi, kebutuhan primer dikenal sebagai kebutuhan pokok yang mencakup kebutuhan akan pangan, sandang dan papan. Kebutuhan-kebutuhan tersebut merupakan kebutuhan yang mendesak dan harus segera dipenuhi, sedang kebutuhan kedua pemenuhannya dapat ditunda bilamana perlu dan dilihat skala prioritasnya.
Freud mengemukakan bahwa sikap dan perilaku manusia didorong oleh faktor seksual (dorongan seksual) dengan teorinya yang terkenal sebagai teori libido seksual.
Menurut teori Freud, struktur kepribadian seseorang berunsurkan 3 komponen utama, yaitu :
a. Id, yaitu insting pribadi atau dorongan yang dibawa sejak lahir.
b. Ego, yaitu komponen kepribadian yang praktis dan rasional (realita).
c. Superego, yaitu bagian dari konsep diri yang sesuai dengan sistem moral, seperti kata
hati dan hati nurani.
Carls Rogers (1902) (dalam Buss, 1987: 395) mengemukakan pendekatan tentang perkembangan pribadi individu yaitu bahwa seseorang individu pada hakikatnya mencoba mengek\spresikan kemampuan, potensi, dan bakatnya untuk mencapai tingkat perkembangan pribadi yang sempurna atau mapan.
Kebutuhan Dasar Manusia
Pada bayi atau kehidupan manusia kecil, perilakunya didominasi oleh kebutuhan-kebutuhan biologis yakni kebutuhan untuk mempertahankan diri. Kebutuhan ini disebut deficiency need artinya kebutuhan untuk pertumbuhan dan memang diperlukan untuk tetap hidup ( survival ). Kemudian, pada masa kehidupan berikutnya muncul kebutuhan untuk mengembangkan diri.
Kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri pada dasarnya merupakan perkembangan dari kebutuhan-kebutuhan tingkat sebelumnya dan kebutuhan ini merupakan kebutuhan tingkat tinggi karena di dalamnya termasuk kebutuhan untuk berprestasi.
Menurut Lewis dan Lewis (1993) kegiatan remaja atau manusia itu didorong oleh berbagai kebutuhan, yaitu :
a. Kebutuhan jasmaniah
b. Kebutuhan psikologis
c. Kebutuhan ekonomi
d. Kebutuhan sosial
e. Kebutuhan politik
f. Kebutuhan penghargaan
g. Kebutuhan aktualisasi diri
Jenis-jenis Kebutuhan Remaja dan Pemenuhannya
Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Hall (dalam Liebert dan kawan-kawan, 1974 : 478) memandang bahwa masa remaja ini sebagai masa “strom and stress”. Ia menyatakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang dihadapi karena remaja itu berupaya untuk menemukan jati dirinya (identitasnya) kebutuhan aktualisasi diri. Sedangkan masa remaja adalah masa yang khusus, penuh gejolak karena pada pertumbuhan fisik terjadi ketidakseimbangan. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan berpikir, bahasa, emosi dan sosial anak. Makna remaja banyak diartikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, baik pihak hukum, ahli psikologi, maupun pandangan masyarakat yang mengaitkan dengan sistem budayanya.
Remaja sebagai individu pada umumnya mempunyai kebutuhan dasar. Beberapa jenis kebutuhan remaja dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian kelompok kebutuhan, yaitu:
a. Kebutuhan organik, yaitu makan, minum dan seks.
b. Kebutuhan emosional, yaitu untuk mendapatkan simpati, dikenal dan pengakuan dari pihak lain.
c. Kebutuhan berprestasi atau need of achievement untuk mengembangkan potensi yang dimiliki dan sekaligus menunjukan kemampuan psikologis; dan
d. Kebutuhan untuk mempertahankan diri dan mengembangkan jenis.
Keempat .macam kebutuhan tersebut bersifat hirarki dari kebutuhan yang bertingkat rendah yaitu kebutuhan jasmaniah sampai pada kebutuhan yang bertingkat tinggi yaitu kebutuhan aktualisasi diri. Hirarki kebutuhan tersebut sejalan dengan teori kebutuhan Maslow (Sunarto dan Hartono, 1994 : 54) yaitu:
- Kebutuhan aktualisasi diri
- Kebutuhan kognitif
- Kebutuhan penghargaan
- Kebutuhan cinta kasih
- Kebutuhan keamanan
- Kebutuhan jasmaniah (fisiologis)
Prescott (Oxendine, 1984:224) mengklasifikasikan kebutuhan remaja sebagai berikut:
1. Kebutuhan psikologis seperti melakukan kegiatan, beristirahat dan kegiatan seksual;
2. Kebutuhan social (status) seperti menerima, diterima, menyukai orang lain;
3. Kebutuhan ego atau interaktif seperti kontak dengan kenyataan, harmonisasi dengan kenyataan, dan meningkatkan kematangan diri sendiri.
Maslow mengungkapkan bahwa kebutuhan psikologis akan muncul setelah kebutuhan-kebutuhan fisiologis terpenuhi. Ia mengklasifikasikan kebutuhan sebagai berikut:
1. Kebutuhan akan keselamatan (Safety needs);
2. Kebutuhan memiliki dan mencintai (Belonging and love needs);
3. Kebutuhan untuk mendapatkan penghargaan (esteem needs);
4. Kebutuhan untuk menonjolkan diri (self-actualizing needs)
Perumusan kebutuhan tersebut berjalan secara hirarkis dan sistematis. Suatu kebutuhan baru akan terpuaskan setelah kebutuhan sebelumnya terpenuhi. Pada akhirnya seseorang akan berusaha untuk mendapatkan kepuasan atas kebutuhan self-actualizing.
Pertumbuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologis di masa remaja pada dasarnya merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan proses pertumbuhan, dan perkembangan dari proses sebelumnya. Seperti halnya pertumbuhan fisik yang ditandai dengan munculnya tanda-tanda kelamin sekunder merupakan awal masa remaja sebagai indikator menuju tingkat kematangan fungsi seksual seseorang. Sekalipun diakui bahwa kebutuhan dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja masih mencakup kebutuhan fisik dan kebutuhan sosial psikologis yang lebih menonjol. Bahwa antara kebutuhan keduanya (fisik dan psikologis) saling terkait. Oleh karena itu, pembagian yang memisahkan kebutuhan atas dasar kebutuhan fisik dan psikologis pada dasarnya sulit dilakukan secara tegas.
Contoh:
- Makan
Makan adalah upaya untuk memenuhi kebutuhan fisik, akan tetapi pada jenjang masa remaja, makan dilakukan dengan bersama orang-orang tertentu – orang lain, makan dengan mengikuti aturan dan norma yang berlaku di dalam budaya kehidupan masyarakat merupakan kebutuhan yang tidak hanya di kelompokkan sebagai kebutuhan fisik semata. Kebutuhan tersebut juga dapat di kelompokkan ke dalam kebutuhan sosial emosional.
Di samping itu masa remaja membutuhkan pengakuan kemampuannya, yang menurut Maslow kebutuhan ini disebut kebutuhan penghargaan. Remaja membutuhkan penghargaan dan pengakuan bahwa ia (mereka) telah mampu berdiri sendiri, mampu melaksanakan tugas-tugas seperti yang dilakukan oleh orang dewasa dan dapat bertanggung jawab atas sikap dan perbuatan yang dikerjakannya. Faktor nonfisik yang secara integratif tergabung di dalam factor social-psikologis dijiwai oleh tiga potensi dasar yang miliki manusia, yaitu pikir, rasa dan kehendak. Ketiganya secara potensial mendorong munculnya berbagai kebutuhan. Remaja telah memahami berbagai aturan di dalam kehidupan bermasyarakat, dan tentu saja ia (mereka) berupaya untuk mengikuti aturan-aturan itu.
Dalam kehidupan modern, manusia tidak saja hanya berpikir tentang kebutuhan pokok, mereka telah maju. Pemikiran telah bercakrawala luas, oleh karena itu kebutuhan pokoknya juga sudah berkembang. Pendidikan dan hiburan misalnya, di dalam masyarakat modern telah menjadi kebutuhanhidupnya yang mendesak, bahkan telah masuk dalam daftar kebutuhan pokok. Kini dapat diamati, bahwa perilaku kehidupan manusia telah menjadi begitu kompleks. Perubahan ini tentu karena adanya factor yang mendorong dan mempengaruhinya. Dalam menghadapi masalah dan perkembangan social psikologis, menjadi manusia berprestasi telah merupakan kebutuhan social yang membimbingnya untuk berhasil dan lebih lanjut untuk menjadi orang yang berprestasi dan berhasil.
Upaya Pemenuhan Kebutuhan Remaja dan Implikasinya dalam Penyelenggaraan Pendidikan
Kondisi lingkungan sekitar, baik keluarga, sekolah, maupun masyarakat berkaitan erat dengan motivasi seseorang. Menurut Maslow (Goble, 1987), ada sejumlah kondisi yang merupakan prasyarat dan sekaligus menjadi intervensi edukatif dalam rangka pemuasan kebutuhan dasar manusia, termasuk remaja, yaitu :
1. Kemerdekaan untuk berbicara
2. Kemerdekaan untuk melakukan apa saja yang diinginkan selama tidak merugikan orang lain
3. Kemerdekaan untuk mengeksplorasi lingkungan
4. Kemerdekaan untuk mempertahankan atau membela diri
5. Adanya keadilan
6. Adanya kejujuran
7. Adanya kewajaran
8. Adanya ketertiban
Selain itu, ada pula sejumlah kebutuhan utama remaja yang penting untuk dipenuhi, yaitu :
1. Kebutuhan akan kasih sayang
2. Kebutuhan akan keikutsertaan dan diterima dalam kelompok
3. Kebutuhan untuk berdiri sendiri
4. Kebutuhan untuk berprestasi
5. Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain
6. Kebutuhan untuk dihargai
7. Kebutuhan untuk memperoleh falsafah hidup yang utuh
Ancaman terhadap prakondisi tersebut di atas akan menyebabkan individu memberikan reaksi dengan cara sama, seperti bereaksi terhadap berbagai ancaman pada kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Lebih lanjut Maslow mengatakan bahwa kondsi-kondisi itu bukanlah tujuan dalam dirinya, namun memang nyaris seperti tujuan karena sedemikian eratnya dengan kebutuhan-kebutuhan dasarnya sendiri yang jelas merupakan tujuan hidup individu.
Masalah Remaja dan Konsekuensinya
Beberapa masalah yang dihadapi remaja sehubungan dengan kebutuhan-kebutuhannya dapat diuraikan sebagai berikut :
1) Upaya untuk mengubah sikap dan perilaku kekanak-kanakan menjadi sikap dan perilaku dewasa. Pada masa ini remaja menghadapi tugas-tugas dalam perubahan sikap dan perilaku yang besar, sedang di lain pihak harapan ditumpukan pada remaja muda untuk dapat meletakkan dasar-dasar bagi pembentukan sikap dan pola perilaku. Kegagalan dalam mengatasi ketidakpuasan ini dapat mengakibatkan menurunnya harga diri, menjadikan remaja bersikap keras dan agresif atau sebaliknya bersikap tidak percaya diri, pendiam atau malah kurang harga diri.
2) Para remaja mengalami kesulitan untuk menerima perubahan-perubahan fisiknya. Ini disebabkan karena pertumbuhan tubuhnya dirasa kurang serasi. Hal inilah yang sering menimbulkan kejengkelan, karena ia (mereka) sulit untuk mendapatkan pakaian yang pantas, juga hal itu tampak pada gerakan atau perilaku yang kelihatannya wagu dan tidak pantas.
3) Perkembangan fungsi seks pada masa ini dapat menimbulkan kebingungan pada remaja untuk memahaminya, sehingga sering terjadi salah tingkah dan perilaku yang menentang norma. Apabila kematangan seksual itu tidak mendapatkan arahan atau penyaluran yang tepat dapat berakibat negatif. Konsekuensi yang diderita sering berbentuk pelarian yang bertentangan dengan norma susila dan social, seperti homoseksual, lari ke kehidupan “hitam” atau melacur, dan semacamnya. Bahkan bagi remaja pria kadang-kadang ke tempat lokalisasi WTS.
4) Dalam kehidupan bermasyarakat, remaja mendambakan kemandirian, dalam arti menilai dirinya sudah cukup mampu untuk mengatasi problema kehidupan. Tapi nyatanya mereka malah menghadapi berbagai masalah, terutama dalam penyesuaian emosional, seperti perilaku yang over acting atau “lancang”. Remaja merasa selalu disalahkan dan akibatnya mereka merasa jengkel bahkan frustasi dengan tingkah lakunya sendiri.
5) Harapan untuk berdiri sendiri dan untuk hidup mandiri secara social ekonomis akan berkaitan dengan berbagai masalah untuk menetapkan pilihan jenis pekerjaan dan jenis pendidikan. Hal ini karena adanya keragaman norma dalam kehidupan bermasyarakat dan norma baru dalam kehidupan remaja, sehingga membuat mereka menjadi dilema.
6) Adanya berbagai norma dan nilai yang berlaku di masyarakat berbeda dengan norma dan nilai yang dianut para remaja. Hal ini membuat kesulitan sendiri bagi kehidupan remaja. Seringkali perbedaan norma yang berlaku dan norma yang dianutnya menimbulkan perilaku yang menyebabkan dirinya dikatakan “nakal”.
Pada dasarnya setiap remaja menghendaki semua kebutuhannya dapat terpenuhi secara wajar. Terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan tersebut secara memadai akan menimbulkan keseimbangan dan keutuhan pribadi. Remaja yang kebutuhannya terpenuhi secara memadai akan memperoleh suatu kepuasan hidup.
Sebaliknya remaja akan mengalami kekecewan, ketidakpuasan, atau bahkan frustasi, dan pada akhirnya menganggu pertumbuhan dan perkembangannya jika kebutuhannya tidak terpenuhi. Hal inilah yang membuat mereka melakukan tindakan yang tidak realistis (menyimpang) bahkan cenderung melarikan diri dari tanggung jawabnya.
Perilaku menyimpang yang umumnya dilakukan remaja, yaitu :
Seks bebas, yang bisa menyebabkan terjangkitnya penyakit AIDS.
Penyalahgunaan obat terlarang dan zat adiktif (NARKOBA), yang menyebabkan kematian dan AIDS.
Perilaku delinkuensi, seperti tawuran, kabur dari rumah bahkan tindakan kekerasan dan tindakan kriminal lainnya.
Bekendara secara ugal-ugalan
Kecanduan minuman keras/alcohol
Bunuh diri Sering berkunjung ke diskotik
Menjajakan diri kepada pria hidung belang
Kenakalan remaja yang sering terjadi di dalam masyarakat bukanlah sesuatu keadaan yang berdiri sendiri. Karakter remaja yang labil dan linngkungannya menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku yang juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis remaja. Kenakalan remaja tersebut timbul karena adanya beberapa sebab dan tiap-tiap sebab dapat ditanggulangi dengan cara-cara tertentu.
Sebab-sebab kenakalan remaja diantaranya adalah :
Kelalaian orangtua dalam mendidik anak. Dalam hal ini kurangnya ajaran dan bimbingan tentang nilai-nilai agama.
Sikap dan perilaku rangtua yang buruk terhadap anak.
Kehidupan keluarga yang morat marit (miskin/fakir)
Perselisihan atau konflik orangtua (antar anggota keluarga)
Perceraian orangtua Kehidupan moralitas masyarakat yang bobrok.
Tidak adanya kepribadian yang mantap, seperti mudah cemas dan depresi.
Pergaulan negatif
Diperjualbelikannya minuman keras/obat-obatan terlarang secara bebas
Beredarnya film-film atau bacaan-bacaan porno
Penjualan alat-alat kontrasepsi yang kurang terkontrol
Hidup menganggur
Kurang dapat memanfaatkan waktu luang
Upaya Penanggulangan Masalah Remaja
1. Langkah-langkah dasar dalam upaya penanggulangan masalah remaja
Langkah perdana dalam upaya kompleks ini dapat dilakukan dengan memberi penjelasan secara luas dan rinci kepada anak anak remaja tentang beberapa aspek yuridis yang relevan dengan perbuatan perbuatan nakal yang kerap kali mereka lakukan.dengan demikian para remaja memilki pemahaman/pengertian,penghayatan dan perilaku hukum yang sehat.
Langkah kedua para remaja harus mempunyai kesadaran hukum yang tinggi, tolak ukur indikasi tersebut dapat didevurasi melalui tingkat tentang pengetahuan hukum, Pemahaman kaidah hukum, sikap terhadap norma-norma hukum, dan perilaku hukum. Kesadaran hukum yang paling sederhana dapat melalui tolak ukur pengetahuan hukum, kesadaran hukum yang paling sempurna adalah melalui indikasi perilaku hukum.
Langkah ketiga dengan internalisasi nilai-nilai kaidah sosial dan internalisasi nilai-nilai norma agama yang dapat mendidik para remaja dalam memiliki tanggung jawab kemasyarakatan dan memiliki penghayatan serta perilaku yang sesuai dengan perintah agama dan meninggalkan apa yang dilarang oleh agama
Langkah keempat ditinjau dari aspek sosiologis, anak remaja dituntut secara moral memiliki rasa solidaritas yang tinggi sehingga mereka merasa ikut memiliki kehidupan sosial dan ikut bertanggung jawab atas keamanan,ketertiban,ketentraman,dan kedamaian dalam kelangsungan hidup sosialnya. Pencapaian kondisi ini penting sekali terutama dalam rangka upaya dasar melakukan prevensi (pencegahan)dan penanggulangan terhadap kenakalan remaja yang dapat meniadakan problem sosial,minimal mengurangi secara kualitatif dan kuantitatif problem sosial yang sering terjadi di masyarakat.
Langkah kelima adalah mengadakan penyensoran film-film yang lebih tidak menitikberatkan pada segi pendidikan , mengadakan ceramah melalui radio,televisi ataupun melalui media yang lain mengenai soal-soal pendidikan pada umumnya
2. Peranan Masyarakat dalam Upaya Menanggulangi Kenakalan Remaja
Keterlibatan masyarakat dalam menanggulangi delinkuensi dapat berupa:
1) Memberi nasihat secara langsung kepada anak yang bersangkutan agar anak tersebut meninggalkan kegiatannya yang tidak sesuai dengan perangkat norma yang berlaku yakni norma hukum,sosial,susila dan agama
2) Membicarakan dengan orang tua/wali anak yang bersangkutan dan dicarikan jalan keluarnya untuk menyadarkan anak tersebut.
3) Langkah yang terakhir masyarakat harus berani melaporkan kepada pejabat yang berwenang tentang adanya kejahatan sehingga segera dilakuakan langkah-langkah prevensi secara menyeluruh.
3. Langkah Pencegahan Secara Dini Terhadap Kenakalan Remaja
1) Memberikan kenyamanan dan perhatian kepada anak dari kecil agar perkembangan anak menjadi baik, tetapi sebagai orang tua juga jangan terlalu memanjakan anak
2) Memantau pergaulannya di masyarakat dan lingkungannya dengan mengetahui sosialita pertemanannya
3) Mencarikan sekolah yang baik dan jika tidak dapat membiayai anak dalam bersekolah dapat mencari orang tua asuh sebagai sumbangan positif
4) Memberikan pengetahuan tentang norma agama dan hukum sejak dini agar di kemudian hari tidak melanggarnya
Komentar
Posting Komentar