BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Pengertian Manajemen Kelas
Secara umum, kelas adalah suatu aktivitas pembelajaran yang dilakukan sekelompok siswa dan guru di suatu tempat secara bersamaan. Dengan kata lain, kelas merupakan tempat bertemunya guru dan siswa tetapi tidak hanya sampai di situ pengertian kelas. Kelas juga dapat digunakan sebagai tempat berkumpulnya suatu komunitas dan kebudayaan, tempat seseorang untuk berintekrasi sebagai manusia sosial juga sebagai sebuah ekologi. Tak hanya itu, kelas juga merupakan suatu lingkungan yang dinamis dimana banyak aktivitas diadakan pada waktu yang sama. Kelas diadakan dengan tujuan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan, dan juga untuk membentuk kemampuan dan sikap yang baik dalam peserta didik (Adi, 2016 : 2-3)
Kelas seperti sebuah oraganisasi, kelas dalam arti umum menunjukkan kepada pengertian sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan dari guru yang sama pula. Sedangkan kelas dalam arti yang luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan organisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Selanjutnya adalah manajemen, manajemen diartikan sebagai pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang efektif dan efisien lewat perencanaan pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sumber daya organisasi. Dengan demikian manajemen kelas adalah bagaimana segala sumber daya yang ada di dalam kelas dikelola secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan kelas, salah satunya kegiatan belajar mengajar yang berkualitas (Sunaengsih, 2017: 15).
Menurut Weber W.A. (1988) dalam Sunaengsih (2017 : 15) mendefinisikan manajemen kelas sebagai kompleks of teaching behaviour of teacher efficient instruction yang mengandung pengertian bahwa segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan serta memotivasi murid agar dapat belajar dengan baik.
Menurut Johson dan Bany (1970) dalam Sunaengsih (2017 : 15) Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosa dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah : sifat kelas, pedorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan seleksi dan kreatif.
Manajamen kelas merupakan serangkaian perilaku guru dalam upaya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan belajar secara efisien atau memungkinkan peserta didik belajar dengan baik (Adnan Sulaeman dalam Sunaengsih, 2017 : 15). Selain itu, manajemen kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran ( Mulyana dalam Sunaengsih, 2017 : 15).
Manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan peraturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai (Sunaengsih, 2017: 15).
Manajemen kelas adalah manajemen penataan kelas yang berupa aturan yang efektif untuk memaksimalkan proses pembelajaran murid. Terdapat beberapa pandanganan dalam manajemen kelas tergangtung fasilitas pendidikan yang digunakan. Dua yang kontras adalah perspektif teacher-centered dan learner-centered. Berdasarkan penelitian Edmund, Emmer, dan Evertson, upaya yang dilakukan guru untuk pengelolaan kelas mampu menghasilkan prestasi murid yang tinggi. Ini karena keterlibatan murid di kelas, tingkah laku murid yang tidak banyak mengganggu kegiatan guru dan siswa lain, dan penggunaan waktu belajar yang efisien. Isu manajemen kelas berkaitan dengan mendesai lingkungan kelas fisik untuk pembelajaran yang optimal, menciptakan lingkungan positif untuk pembelajaran, membnagun dan menegakkan aturan, mengajak murid berprestasi mengatasi permasalahan secara efektif , dan menggunakan strategi komunikasi yang baik (Yao Tung, 2015 :379-380).
Manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas dapat melaksanakan proses belajar dengan efektif, efisien dan menyenangkan. Manajemen kelas merupakan perangkat perlaku yang kompleks dimana guru menggunakannya untuk mengembangkan dan memelihra kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan belajar secara efisien . Dapat disimpulka bahwa menejemen kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakuan oleh guru dengna tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Manajemen kelas sngat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (Indrawan, 2015 : 6-7).
According to Marshall (2003) in Walter adn Frei (2007 : 13) Classroom management refers to how things are generally carried out in the classroom, whereas classroom discipline is the specific management of student behavior. Dr. Marvin Marshall explains, “Classroom management deals with how things are done; discipline deals with how people behave. Classroom management has to do with procedures, routines, and structure; discipline is about impulse management and self-control. Classroom management is the teacher’s responsibility; discipline is the student’s responsibility”
According to Evertson and Weinstein (2006) in Korpershoek, et all (2014 : 11) refer in their definition of classroom management to the actions teachers take to create a supportive environment for the academic and social emotional learning of students. Brophy (2006) in Korpershoek, et all (2014 : 11) presents a similar definition: “Classroom management refers to actions taken to create and maintain a learning environment conducive to successful instruction (arranging the physical environment, establishing rules and procedures, maintaining students' attention to lessons and engagement in activities)” (p. 17).
As stated above, classroom management is about creating inviting and appealing environments for student learning. Classroom management strategies are tools that the teachers can use to help create such an environment, ranging from activities to improve teacher-student relationships to rules to regulate student behaviour.
Clearly students cannot learn amidst anarchy and chaos. Therefore there should be norms, etiquettes and mutually agreeable code of conduct among the students and with teacher. Even a competent teacher with an excellent lesson plan cannot achieve his instructional objectives without proper classroom management. Hence training in the skill of classroom management is indispensable in any teacher preparation course. Lai et al., (2005) designed an online course using Scenario based Strategy in teacher education for classroom management. Combined with the theories of classroom management, it uses multimedia to present the reality which allows learners to experience how teachers make decisions (Vijesh and Praveen, 2017 : 18).
2.1.2 Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan manajemen kelas pada hakekatnya sudah terkadung pada tujuan pendidikan secara umum. Menurut Sudirman (2000) dalam Sunaengsih (2017: 16) tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa beljar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberi kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Menurut Suharsimi Arikunto (2004), berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Selanjutnya akan diuraikan secara rinci tentang tujuan manajemen kelas :
Mewujudkan situasi kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabotan belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelek siswa dalam belajar.
Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individualnya. Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen (1996).
Menurut Yao Tung (2015: 82) tujuan manajemen kelas yaitu :
Menghindari hal-hal yang menggangu proses pembelajaran.
Membantu murid menggunakan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan.
Mencegh murid mengalami masalah akademik dan emosional.
2.1.3 Jenis-Jenis Pengelolaan Kelas
Menurut Dwi Faruqi (2018:297-299) dalam Nurhadi upaya untuk menciptakan dan mempertahankan suasana yang diliputi oleh motivasi siswa yang tinggi dapat dilakukan secara preventif maupun secara kuratif. Maka pengelolaan kelas, apabila ditinjau dari sifatnya, dapat dibedakan menjadi dua yaitu
1. Pengelolaan kelas yang bersifat preventif
Dikatakan secara preventif apabila upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk menciptakan suatu kondisi dari kondisi masa menjadi interaksi pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang menguntungkan bagi proses belajar mengajar. Pengelolaan kelas yang preventif ini dapat berupa tindakan, contoh atau pemberian informasi yang dapat diberikan kepada siswa sehingga akan berkembang motivasi yang tinggi, atau agar motivasi yang sudah baik itu tidak dinodai oleh tindakan siswa yang menyimpang sehingga mengganggu proses belajar mengajar di kelas.12
Keterampilan yang berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran ini, dapat ditunjukkan melalui sikap tanggap guru, bahwa guru hadir bersama anak didik. Guru tahu kegiatan mereka apakah memperhatikan atau tidak. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegur mereka walaupun sedang menulis di papan tulis.
2. Pengelolaan kelas yang bersifat kuratif
Pengelolaan kelas secara kuratif adalah pengelolaan kelas yang dilaksanakan karena terjadi penyimpangan pada tingkah laku siswa sehingga mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Dalam hal ini kegiatan pengelolaan kelas akan berusaha menghentikan tingkah laku yang menyimpang tersebut dan kemudian mengarahkan terciptanya tingkah laku siswa yang mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar dengan baik.
Guru harus mengetahui pusat perhatian siswa pada waktu mengikuti pelajaran dalam kelas. Apakah siswa-siswanya di kelas tekun mengikuti dan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar ataukah tidak. Dari sorot mata atau gerak-gerik mereka dapat diketahui apakah mereka sudah tertuju dan mengikuti dengan baik proses belajar mengajar ataukah malah mengganggu proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat diketahui ketika siswa ditunjuk untuk menjawab atau melakukan perintah guru, akan memberikan jawaban yang salah (dalam arti kurang komunikasi atau konsentrasi) atau terlihat terkejut. Oleh karena itu, apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan pada saat kegiatan belajar mengajar, guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku anak didik, misalnya dengan mencoba mengetahui sebab-sebab yang mengakibatkan tingkah laku anak didik yang menyimpang tadi, kemudian berusaha untuk menemukan pemecahannya.
Menurut Radno Harsanto (2007:40-42) Kelas harus dirancang dan dikelola dengan seksama agar memberi hasil yang maksimal. Pendekatan atas pengelolaan kelas sangat tergantung pada kemampuan,pengetahuan,sikap guru, terhadap proses pembelajaran, dan hubungan siswa yang mereka ciptakan.ada 4 jenis kelas yang dapat diamati yaitu sebagai berikut
Jenis kelas yang selalu gaduh. Guru harus bergelut sepanjang hari untuk menguasai kelas, tetapi tidak berhasil sepenuhnya. Petunjuk dan ancaman sering diabadikan, dan hukuman tampaknya tidak efektif.
Jenis kelas yang termasuk gaduh, tetapi suasananya lebih positif. Guru mencoba untuk membuat sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswanya dengan memperkenalkan permainan dan kegiatan yang menyenangkan, membaca cerita, serta menyelenggarakan kegiatan kesenian dan pameran kerajinan siswa. Akan tetapi, jenis kelas ini juga masih menimbulkan masalah. Banyak siswa kurang memberi perhatian di kelas dan tugas-tugas sekolah tidak diselesaikan dengan baik atau tugas tersebut dikerjakan secara acak-acakan. Hal ini dapat terjadi walaupun guru memberi kegiatan akademik yang minimal dan mencoba semaksimal mungkin agar kegiatan akademik tersebut menyenangkan.
Jenis kelas yang tenang dan disiplin, baik krena guru telah menciptakan banyak aturan maupun meminta agar aturan tersebut dipatuhi. Pelanggaran langsung dicatat dan diikuti dengan peringatan tegas, dan bila perlu disertai dengan hukuman. Guru sering menghabiskan banyak waktu dengan melakukan hal ini karena ia dengan cepat dapat memerhatikan bentuk pelanggaran . Ia tampak berhasil menanamkan disiplin karena siswa biasanya patuh. Akan tetapi, suasana kelas menjadi tidak nyaman. Keterangan yang demikian ,hanya tampak dipermukaan saja karena ketika guru meninggalkan kelas, kelas akan menjadi gaduh dan kacau.
Jenis kelas yang mengelinding dengan sendirinya. Guru menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengejar dan tidak untuk menegakkan disiplin. Siswa mengikuti pelajaran dan menyelesaikan tugas dengan kemauannya sendiri tanpa harus dipelototi oleh guru. Siswa yang tampak terlibat dal tugas pekerjaan saling berinteraksi sehingga suara muncul dari beberapa tempat secara bersamaan. Akan tetapi suara tersebut dapat dikendalikan. Dan para siswa menjadi giat serta serta tidak saling menganggu. Apabila suara timbul dan terasa sedikit menganggu, guru memberi sedikit peringatan dan kelas menjadi tenang atau kondusif. Siapapun akan melihat kelas semacam ini begitu hangat dan menghasilkan prestasi yang membanggsakan.
2.1.4 Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas
Prinsip-prinsip menurut Djamar dalam Sunaengsih (2018:105), antara lain :
1. Hangat dan antusias.
2. Tantangan.
3. Bervariasi.
4. Keluesan.
5. Penekanan pada hal-hal yang positif.
6. Penanaman disiplin diri.
Sedangkan menurut Hasibuan dan Mudjono, mengemukakan beberapa prinsip yang harus di perhatikan dalam pengelolaan kelas diantaranya yaitu:
1. Kehangatan dan keantusiasan.
2. Penggunaan bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah belajar siswa.
3. Perlu dipertimbangkan variasi media,gaya mengajar, dan pola interaksi.
4. Diperlukan keluesan tingkah laku guru dalam mengubah strategi mengajarnya untuk mencegah gangguan-gangguan yang timbul.
5. Penekanan pada hal positif dan menghindari pemusatan perhatian siswa pada hal negative.
6. Mendorong siswa untuk mengembangkan disiplin diri sendiri dengan cara memberi contoh dalam perbuatan guru sehari-hari.
The educational application of emotional research is still in its infancy. Some general principles to guide classroom applications are:
1. Seek to develop form of self-control among students and staff that encourages nonjudgemental, nondisruptive venting of emotions.
2. Schools should focus more on metacognitive activities that encourage students to talk abouth their emotions, listen to their classmates’feelings.
3. Activities that emphasize social interaction and that engage the entire body tend to provide the most emotional support.
4. School avtivities that draw out emotions-stimulations,role playing, and cooperative project may provide important contextual memory prompts.
5. Emotionally stressfull school environments are counterproductive because they can reduce a students ability to learn (Taylor.2003:10-11).
Perencanaan pengelolaan kelas meliputi penataan ruangan dan mengorganisasi anak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam mengelola kelas adalah sebagai berikut :
1. Kurangi kepadatan pada daerah lalu lalang anak-anak beraktifitas.
2. Posisi guru dapat dengan mudah melihat semua siswa.
3. Materi pembelajaran dan perlengkapan anak harus mudah diakses agar dapat meminimalisir waktu persiapan dan perapi.
4. Semua anak harus duduk pada tempatnya dan dapat melihat seluruh ruangan dengan mudah.
5. Menata sarana dan prasarana di dalam ruangan harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
6. Mengelola meja dan kursi anakharus bersifat fleksibel dan berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan anak.
7. Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk ditempelkan beberapa sumber belajar dan hasil kerja anak.
8. Peletakan alat permainan edukatif atau alat peraga haruslah diletakan sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya.
9. Alat bermain untuk kegiatan pengaman diletakkan didalam kelas sehingga berfungsi apabila diperlukan oleh anak-anak (Pangastuti.2017:39-40).
A variety of specific strategies and general pratices that met the criteria for being “avidence-based” were found and grouped into five critical features of effective classroom management.
1. Maximise structure through the use of teacher directed activities,explicity defined rountines and the physical classroom arrangement in term of good spacing of cluster of desks and visual display.
2. Estabilishing expectasion and teaching social skills by identifying and defining a small number of positively state rules of arrangement and then ensuring that these are well taught, modeled, reviewed and supervised by the teacher moving around the room.
3. Actively engage students in their learning in order to minimizemisbehaviours by using a variety of instructional techniques.
4. Acnowwledging apporiate behaviours by using a range of strategies that focus on identifiying and recognizing apporiate classroom behviours through the use of both individual and group encouragement.
5. Using a range of strategis to respon to misbehaviours form low-key technique to remind and redirect the behaviours (Egeberg add all.2016:6-7).
2.1.5 Pendekatan Pengelolaan Kelas
Keharmonisan hubungan guru dengan peserta didik, tingginya kerjasama diantara peserta didik tersimpul dalam bentuk interaksi. Karena itu there are many forms of interaction between teacher and pupils, and betweenpupils, Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas agarpembelajaran menjadi efektif.
Menurut Syaiful Bahri pendekatan tersebut meliputi pendekatan kekuasaan, pendekatan ancaman, pendekatan kebebasan, pendekatan resep, pendekatan pembelajaran , pendekatan perubahan tingkah laku, pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial, pendekatan proses kelompok dan pendekatan elektis atau pluralistik.(zahro,2015:182).
In student-centered classroom management approaches, the teacher gets to know his/her students, share their ideas and their management approaches allow them and students to see one another as people. Person-centered teachers share leadership and teachers and students determine shared norms and begin to establish trust in the classroom ,positive student-teacher relationships presumably lessen the need for control and become the foundation for all interaction in the classroom( Llego,2017:1804).
Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Peranan guru disini adalah menciptkan dan mempertahankan situasi disiplin kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada peserta didik untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya.
Di dalam kegiatan pembelajaran, factor kedisiplinan adalah kekuatan utama untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, karena itu guru perlu menekankan pentingnya peserta didik untuk menaati peraturan yang telah dibuat sebelumnya. Berbagai peraturan itu ibaratnya adalah “penguasa” yang wajib untuk ditaati. Oleh sebab itu, guru harus mampu melakukan pendekatan yang baik kepada peserta didik melalui peraturan ini, dan bukan kemauannya sendiri Alangkah lebih baik jika sebelum memulai mengajar, guru membuat kesepakatan-kesepakatan dengan peserta didik mengenai keharusan untuk menaati aturan. Namun, tak hanya peserta didik, guru juga harus konsisten mengikuti segala peraturan yang ditetapkan agar tidak timbul kecemburuan diantara para peserta didik (zahro,2015:182).
Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku peserta didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya, melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa. Ancaman disini sepatutnya tidak dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi kelas sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan ancaman ini ditangguhkan. Namun satu hal yang harus diingat, pendekatan ancaman harus dilakukan dalam taraf kewajaran dan diusahakan untuk tidak melukai perasaan peserta didik.
Guru mungkin perlu memberi ancaman seperti penangguhan nilai, pemberian tugas tambahan, serta memberikan tugas-tugas lain yang sifatnya mendidik bagi mereka. Ancaman dalam bentuk intimidasi yang berlebihan, seperti mengejek, membanding-bandingkan, memukul dan memaksa, sebaiknya difikirkan ulang sebelum diterapkan. Sebab ancaman seperti itu sangat mungkin dapat melukai perasaan peserta didik serta menyebabkan mereka semakin bertindak represif di dalam kelas. Sindiran halus juga dapat dilakukan oleh guru terhadap peserta didik yang kurang menaati aturan. (zahro,2015:183).
Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan peserta didik, selama hal itu tidak menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Terkadang, peserta didik tidak nyaman apabila ada seorang guru yang terlalu over-protectif sehingga peserta didik tidak leluasa melakukan eksperimennya. Jika memberikan tugas kepada peserta didik untuk menuliskan beberapa pengalaman, maka berilah mereka kebebasan untuk menceritakan apa saja yang mereka tuliskan. Jangan membuat ketentuanketentuan yang terlalu ketat yang karenanya dapat mengekang kebebasan peserta didik untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya.(zahro,2015:183-184).
Pendekatan Resep Pendekatan resep (cook book)
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep (Rofiq,2009:32).
Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa dengan suatu perencanaan dan pelaksanan pengajaran akan mencegah munculnya masalah tingkah laku siswa dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah atau menghentikan tingkah laku siswa yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pengajaran yang baik.(sunhaji,2014:40).
Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku (Behavior Modification)
Sesuai namanya, pengelola kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku siswa. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku siswa yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik(sunhaji,2014:40).
Pendekatan Sosial Emosional
pendekatan ini pengelola kelas merupakan proses menciptakan iklim sosial, emosional positif dalam kelas. Sosiol emosional positif, artinya ada hubungan baik yang positif antara guru dan siswa atau antara siswa dengan siswa. Di sini guru adalah terhadap pembentukan hubungan pribadi itu. Peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang baik. (sunhaji,2014:40).
Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial
Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai kelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya ada hubungan yang baik dan positif antara guru dengan peserta didik, atau antara peserta didik dengan peserta didik. Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat. (zahro,2015:186).
Pendekatan Pluralistik
Pengelola kelas berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan belajar mengajar berlangsung efektif dan efisien. Guru dapat memilih 8 (delapan) pendekatan di atas dan ia bebas memilih pendekatan yang sesuai yang dapat dilaksanakan. Jadi pengertian kelas adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru dan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien(sunhaji,2014:41).
2.1.6 Masalah-masalah dalam Pengelolaan Kelas
A. Masalah dalam Pengelolaan Kelas
Menurut Ranchman (dalam Cucun Sunaengsih. 2017: 17-18) terdapat beberapa faktor atau sumber yang dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang dapat menggaggu terpeliharanya disiplin dalam suatu mangemen kelas. Faktor tersebut dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori umum yaitu masalah-masalah yang ditimbulkan oleh guru, siswa, dan lingkungan. Berikut pemaparannya:
a. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh guru
Pribadi guru sangat mempengaruhi terciptanya suasana disiplin kelas yang efektif, berikut yang dapat menimbulkan masalah didalam kelas terganggu:
Guru membiarkan peserta didik berbuat salah
Lebih mementingkan mata prlajaran dari pada pesrta didik
Kurang menghargai pada peserta didik
Kurang adanya rasa humor saat pembelajaran dikelas
Kata-kata atau sindiran tajam yang menimbulkan rasa malu siswa
Kegagalan menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta didik
Gagal menditeksi atau memahami perbedaan individu peserta didik
Berbicara menggumam atau tidak jelas
Memberi tugas yang berat dan kompleks
Tidak memberikan umpan balik kepada hasil krja peserta didik
b. Masalah-masalah yang ditimbulkan peserta didik
beberapa hal berikut ini cenderung memberikan kontribusi timbulnya masalah kelas terganggu, yaitu:
Anak yang suka “membadut” atau berbuat yang aneh semata-mata untuk menarik perhatian dikelas
Anak broken home yang butuh akan perhatian
Anak yang sakit
Anak yang tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah
Anak yang memiliki rasa bermusuhan atau menentang terhadap peraturan
Anak yang memiliki masalah pesimis terhadap semua keadaan
Anak yang berkeinginan berbuat segalanya dikuasai secara “sempurna”
c. Masalah-masalah yang ditimbulkan lingkungan
Lingkungan secara langsung atau tidak langsung, situasi atau kondisi yang mengelilingi peserta didik dapat menimbulkan masalah dikelas, yaitu:
Lingkungan rumah/keluarga, seperti: kurang perhatian, ketidak teraturan, pertengkaran, tekanan, masa bodoh, sibuk urusannya masing-masing.
Lingkungan tempat tinggal, seperti: lingkungan criminal, lingkungan bising, lingkungan minuman keras, dan sebagainya.
Lingkungan sekolah, seperti: kelemahan guru, kelemahan kurikulum, kelemahan manajemen kelas, ketidak tertiban, kekurangan fasilitas.
Situasi sekolah, seperti: hari-hari akan libur atau sesudah libur, pergantian pelajaran, pergantian guru, jadwal yang kaku, bau-bau yang timbul baik dari kantin atau toilet, suara bising disekitar kelas.
Menurut Sunaryo (dalam Sunhaji. 2014: 35-36) bahwa ” setiap guru akan mrnghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah managemen. Masalah pengajaran adalah usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat suatu acara pembelajaran (SAP), penyajian inforasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi dan banyak lagi. Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien, misalnya memberi penguatan, mengembangkan hubungan uru-siswa, membuat aturan kelompok yang produktif”
Indiscipline is a problem normally faced by teachers which creates a hindrance in teaching process. Due to indiscipline situation students arrive late for class, are not punctual for the classes or simply bunk classes as the class is not very interesting or rather as a teacher we are unable to create interest in the class .This may be a result of lack of lesson planning .At times effective management of time is also overlooked. Non verbal cues like body language and communication skills also play a major role in making the class effective (Chandara. 2015: 13-14).
B. Pemecahan Masalah dalam Manajemen Kelas
Menurut Sunaengsih (2017:18-19) dalam setiap masalah ternyata selalu ada pemecahan masalahnya asalkan kita mau berusaha memecahkan masalah tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut masalah dalam pengelolaan kelas juga terdapat upaya pemecahan masalah simana upaya pemecahan masalah tersebut tebagi menjadi dua yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Upaya pemecahan masalah yang bersifat pencegahan
Sebelum masalah terjadi dalam pengelolaan kelas dapat dilakukan pencegahan untuk meminimalisir masalah yang terjadi. Keberhasilan dalam pencegahan dapat menjadi salah satu indikator dalam keberhasilan pengelolaan kelas. Adapun langkah-langkah dalam upaya pencegahan terhadap masalah dalam pengelolaan pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut:
Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Langkah ini merupakan langkah dasar bagi seorang guru. Kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa yang memiliki yang merupakan dasar bagi guru untuk melaksanakan tugasnya.
Peningkatan kesadaran peserta didik
Interaksi positif antara guru dan siswa akan menghasilkan pembelajaran yang baik, sehingga setelah timbul kesadaran guru maka kesadaran peserta didik juga harus ditingkatkan. Cara yang dapat dilakukan yaitu memberitahu hak dan kewajiban peserta didik, memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan peserta didik dan menciptakan suasana saling pengertian dan saling menghormati.
Sikap polos dan tulus dari guru
Sikap ini merupakan sikip tulus dari guru dalam pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan secara jujur tanpa adanya kebohongan dalam setiap tindakan yang diberikan guru.
Mengenal alternatif pengelolaan
Langkah yang dilakukan yaitu melakukan tindakan identifikasi sebagai penyimpangan tingkah laku peserta didik yang bersifat individual maupun kelompok, mengenal berbagai penekatan dalam manajemen kelas dan mempelajari pengalaman guru lain yang berhasil atau gagal dalam pelaksanaan pembelajaran yang dapat digunakan sebagai cermin dari cara guru melakukan pembelajaran
Menciptakan kontak sosial
Kontak sosial berkaitan dengan standar tingkah laku yang diharapkan dapat memberikan gambaran tentang keterbatasannya dalam memfasilitasi kebutuhan peserta didik, sehingga dalan menentukan norma atau peraturan diperlukan adanya kontak sosial lebih dahulu kepada peserta didik.
b. Upaya yang bersifat penyembuhan
Adapun langkah-langkah penyelesaian masalah dapat dilkukan melalui langkah berikut:
Mengidentifikasi masalah
Mengidentifakasi jenis penyimpangan dan mengetahui yang melatar belakangi masalah yang terjadi.
Menganalisis masalah
Setelah mengenali masalah maka muali menentukan alternatif dalam penyelesaian masalahnya.
Menilai alternatif pemecahan masalah
Menilai atau memilih alernatif yang dianggap mampu dan dapat menanggulangi masalah yang terjadi.
Mendapatkan balikan
Melaksanakan monitoring dengan maksud mengetahui kemampuan alternatif pemecahan masalah dengan masalah yang terjadi.
Menurut Pasikha (2017:55) tindakan pencegahan atau preventif adalah tindakan untuk menyediakan kondisi fisik dan emosional sehingga siswa merasa nyaman dalam belajar. Adapun tindakan korektif adalah tindakan yang berusaha untuk memperbaiki tingkah laku siswa yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi PBM. Hal ini yang terkait erat dengan masalah kedisiplinan. Dan peran guru sangat penting dalam pengelolaan kelas untuk mampu menangani masalah siswa sebab disiplin adalah kunci sukses dalam segala hal. Dari kedisiplinan akan timbul sifat teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha, gigih dalam membela kebenaran serta pantang berputus asa.
PEMBAHASAN
2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Pengertian Manajemen Kelas
Secara umum, kelas adalah suatu aktivitas pembelajaran yang dilakukan sekelompok siswa dan guru di suatu tempat secara bersamaan. Dengan kata lain, kelas merupakan tempat bertemunya guru dan siswa tetapi tidak hanya sampai di situ pengertian kelas. Kelas juga dapat digunakan sebagai tempat berkumpulnya suatu komunitas dan kebudayaan, tempat seseorang untuk berintekrasi sebagai manusia sosial juga sebagai sebuah ekologi. Tak hanya itu, kelas juga merupakan suatu lingkungan yang dinamis dimana banyak aktivitas diadakan pada waktu yang sama. Kelas diadakan dengan tujuan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan, dan juga untuk membentuk kemampuan dan sikap yang baik dalam peserta didik (Adi, 2016 : 2-3)
Kelas seperti sebuah oraganisasi, kelas dalam arti umum menunjukkan kepada pengertian sekelompok siswa yang ada pada waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dan dari guru yang sama pula. Sedangkan kelas dalam arti yang luas adalah suatu masyarakat kecil yang merupakan bagian dari masyarakat sekolah yang sebagai suatu kesatuan organisasi menjadi unit kerja yang secara dinamis menyelenggarakan kegiatan-kegiatan belajar mengajar yang kreatif untuk mencapai suatu tujuan. Selanjutnya adalah manajemen, manajemen diartikan sebagai pencapaian tujuan organisasi dengan cara yang efektif dan efisien lewat perencanaan pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan sumber daya organisasi. Dengan demikian manajemen kelas adalah bagaimana segala sumber daya yang ada di dalam kelas dikelola secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan kelas, salah satunya kegiatan belajar mengajar yang berkualitas (Sunaengsih, 2017: 15).
Menurut Weber W.A. (1988) dalam Sunaengsih (2017 : 15) mendefinisikan manajemen kelas sebagai kompleks of teaching behaviour of teacher efficient instruction yang mengandung pengertian bahwa segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan serta memotivasi murid agar dapat belajar dengan baik.
Menurut Johson dan Bany (1970) dalam Sunaengsih (2017 : 15) Manajemen kelas merupakan keterampilan yang harus dimiliki guru dalam memutuskan, memahami, mendiagnosa dan kemampuan bertindak menuju perbaikan suasana kelas terhadap aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam manajemen kelas adalah : sifat kelas, pedorong kekuatan kelas, situasi kelas, tindakan seleksi dan kreatif.
Manajamen kelas merupakan serangkaian perilaku guru dalam upaya menciptakan dan memelihara kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan belajar secara efisien atau memungkinkan peserta didik belajar dengan baik (Adnan Sulaeman dalam Sunaengsih, 2017 : 15). Selain itu, manajemen kelas merupakan keterampilan guru untuk menciptakan iklim pembelajaran kondusif dan mengendalikannya jika terjadi gangguan dalam pembelajaran ( Mulyana dalam Sunaengsih, 2017 : 15).
Manajemen kelas adalah segala usaha yang diarahkan untuk mewujudkan suasana belajar mengajar yang efektif dan menyenangkan serta dapat memotivasi siswa untuk belajar dengan baik sesuai dengan kemampuan. Atau dapat dikatakan bahwa manajemen merupakan usaha sadar untuk mengatur kegiatan proses belajar mengajar secara sistematis. Usaha sadar itu mengarah pada penyiapan bahan belajar, penyiapan sarana dan alat peraga, pengaturan ruang belajar, mewujudkan situasi/kondisi proses belajar mengajar dan peraturan waktu sehingga pembelajaran berjalan dengan baik dan tujuan kurikuler dapat tercapai (Sunaengsih, 2017: 15).
Manajemen kelas adalah manajemen penataan kelas yang berupa aturan yang efektif untuk memaksimalkan proses pembelajaran murid. Terdapat beberapa pandanganan dalam manajemen kelas tergangtung fasilitas pendidikan yang digunakan. Dua yang kontras adalah perspektif teacher-centered dan learner-centered. Berdasarkan penelitian Edmund, Emmer, dan Evertson, upaya yang dilakukan guru untuk pengelolaan kelas mampu menghasilkan prestasi murid yang tinggi. Ini karena keterlibatan murid di kelas, tingkah laku murid yang tidak banyak mengganggu kegiatan guru dan siswa lain, dan penggunaan waktu belajar yang efisien. Isu manajemen kelas berkaitan dengan mendesai lingkungan kelas fisik untuk pembelajaran yang optimal, menciptakan lingkungan positif untuk pembelajaran, membnagun dan menegakkan aturan, mengajak murid berprestasi mengatasi permasalahan secara efektif , dan menggunakan strategi komunikasi yang baik (Yao Tung, 2015 :379-380).
Manajemen kelas adalah mengacu kepada penciptaan suasana atau kondisi kelas yang memungkinkan siswa dalam kelas dapat melaksanakan proses belajar dengan efektif, efisien dan menyenangkan. Manajemen kelas merupakan perangkat perlaku yang kompleks dimana guru menggunakannya untuk mengembangkan dan memelihra kondisi kelas yang memungkinkan peserta didik mencapai tujuan belajar secara efisien . Dapat disimpulka bahwa menejemen kelas adalah berbagai jenis kegiatan yang dengan sengaja dilakuan oleh guru dengna tujuan menciptakan kondisi optimal bagi terjadinya proses belajar mengajar di kelas. Manajemen kelas sngat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar (Indrawan, 2015 : 6-7).
According to Marshall (2003) in Walter adn Frei (2007 : 13) Classroom management refers to how things are generally carried out in the classroom, whereas classroom discipline is the specific management of student behavior. Dr. Marvin Marshall explains, “Classroom management deals with how things are done; discipline deals with how people behave. Classroom management has to do with procedures, routines, and structure; discipline is about impulse management and self-control. Classroom management is the teacher’s responsibility; discipline is the student’s responsibility”
According to Evertson and Weinstein (2006) in Korpershoek, et all (2014 : 11) refer in their definition of classroom management to the actions teachers take to create a supportive environment for the academic and social emotional learning of students. Brophy (2006) in Korpershoek, et all (2014 : 11) presents a similar definition: “Classroom management refers to actions taken to create and maintain a learning environment conducive to successful instruction (arranging the physical environment, establishing rules and procedures, maintaining students' attention to lessons and engagement in activities)” (p. 17).
As stated above, classroom management is about creating inviting and appealing environments for student learning. Classroom management strategies are tools that the teachers can use to help create such an environment, ranging from activities to improve teacher-student relationships to rules to regulate student behaviour.
Clearly students cannot learn amidst anarchy and chaos. Therefore there should be norms, etiquettes and mutually agreeable code of conduct among the students and with teacher. Even a competent teacher with an excellent lesson plan cannot achieve his instructional objectives without proper classroom management. Hence training in the skill of classroom management is indispensable in any teacher preparation course. Lai et al., (2005) designed an online course using Scenario based Strategy in teacher education for classroom management. Combined with the theories of classroom management, it uses multimedia to present the reality which allows learners to experience how teachers make decisions (Vijesh and Praveen, 2017 : 18).
2.1.2 Tujuan Pengelolaan Kelas
Tujuan manajemen kelas pada hakekatnya sudah terkadung pada tujuan pendidikan secara umum. Menurut Sudirman (2000) dalam Sunaengsih (2017: 16) tujuan manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional dan intelektual dalam kelas. Fasilitas yang disediakan itu memungkinkan siswa beljar dan bekerja, terciptanya suasana sosial yang memberi kepuasan, suasana disiplin, perkembangan intelektual, emosional dan sikap serta apresiasi pada siswa.
Menurut Suharsimi Arikunto (2004), berpendapat bahwa tujuan manajemen kelas adalah agar setiap anak di kelas dapat bekerja dengan tertib sehingga segera tercapai tujuan pengajaran secara efektif dan efisien. Selanjutnya akan diuraikan secara rinci tentang tujuan manajemen kelas :
Mewujudkan situasi kondisi kelas, baik sebagai lingkungan belajar maupun sebagai kelompok belajar, yang memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan kemampuan semaksimal mungkin.
Menghilangkan berbagai hambatan yang dapat menghalangi terwujudnya interaksi pembelajaran.
Menyediakan dan mengatur fasilitas serta perabotan belajar yang mendukung dan memungkinkan siswa belajar sesuai dengan lingkungan sosial, emosional dan intelek siswa dalam belajar.
Membina dan membimbing siswa sesuai dengan latar belakang sosial, ekonomi, budaya, serta sifat-sifat individualnya. Dirjen PUOD dan Dirjen Dikdasmen (1996).
Menurut Yao Tung (2015: 82) tujuan manajemen kelas yaitu :
Menghindari hal-hal yang menggangu proses pembelajaran.
Membantu murid menggunakan lebih banyak waktu untuk belajar dan mengurangi waktu aktivitas yang tidak diorientasikan pada tujuan.
Mencegh murid mengalami masalah akademik dan emosional.
2.1.3 Jenis-Jenis Pengelolaan Kelas
Menurut Dwi Faruqi (2018:297-299) dalam Nurhadi upaya untuk menciptakan dan mempertahankan suasana yang diliputi oleh motivasi siswa yang tinggi dapat dilakukan secara preventif maupun secara kuratif. Maka pengelolaan kelas, apabila ditinjau dari sifatnya, dapat dibedakan menjadi dua yaitu
1. Pengelolaan kelas yang bersifat preventif
Dikatakan secara preventif apabila upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk menciptakan suatu kondisi dari kondisi masa menjadi interaksi pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang menguntungkan bagi proses belajar mengajar. Pengelolaan kelas yang preventif ini dapat berupa tindakan, contoh atau pemberian informasi yang dapat diberikan kepada siswa sehingga akan berkembang motivasi yang tinggi, atau agar motivasi yang sudah baik itu tidak dinodai oleh tindakan siswa yang menyimpang sehingga mengganggu proses belajar mengajar di kelas.12
Keterampilan yang berhubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran ini, dapat ditunjukkan melalui sikap tanggap guru, bahwa guru hadir bersama anak didik. Guru tahu kegiatan mereka apakah memperhatikan atau tidak. Seolah-olah mata guru ada di belakang kepala, sehingga guru dapat menegur mereka walaupun sedang menulis di papan tulis.
2. Pengelolaan kelas yang bersifat kuratif
Pengelolaan kelas secara kuratif adalah pengelolaan kelas yang dilaksanakan karena terjadi penyimpangan pada tingkah laku siswa sehingga mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Dalam hal ini kegiatan pengelolaan kelas akan berusaha menghentikan tingkah laku yang menyimpang tersebut dan kemudian mengarahkan terciptanya tingkah laku siswa yang mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar dengan baik.
Guru harus mengetahui pusat perhatian siswa pada waktu mengikuti pelajaran dalam kelas. Apakah siswa-siswanya di kelas tekun mengikuti dan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar ataukah tidak. Dari sorot mata atau gerak-gerik mereka dapat diketahui apakah mereka sudah tertuju dan mengikuti dengan baik proses belajar mengajar ataukah malah mengganggu proses kegiatan belajar mengajar. Hal ini dapat diketahui ketika siswa ditunjuk untuk menjawab atau melakukan perintah guru, akan memberikan jawaban yang salah (dalam arti kurang komunikasi atau konsentrasi) atau terlihat terkejut. Oleh karena itu, apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan pada saat kegiatan belajar mengajar, guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku anak didik, misalnya dengan mencoba mengetahui sebab-sebab yang mengakibatkan tingkah laku anak didik yang menyimpang tadi, kemudian berusaha untuk menemukan pemecahannya.
Menurut Radno Harsanto (2007:40-42) Kelas harus dirancang dan dikelola dengan seksama agar memberi hasil yang maksimal. Pendekatan atas pengelolaan kelas sangat tergantung pada kemampuan,pengetahuan,sikap guru, terhadap proses pembelajaran, dan hubungan siswa yang mereka ciptakan.ada 4 jenis kelas yang dapat diamati yaitu sebagai berikut
Jenis kelas yang selalu gaduh. Guru harus bergelut sepanjang hari untuk menguasai kelas, tetapi tidak berhasil sepenuhnya. Petunjuk dan ancaman sering diabadikan, dan hukuman tampaknya tidak efektif.
Jenis kelas yang termasuk gaduh, tetapi suasananya lebih positif. Guru mencoba untuk membuat sekolah sebagai tempat yang menyenangkan bagi siswanya dengan memperkenalkan permainan dan kegiatan yang menyenangkan, membaca cerita, serta menyelenggarakan kegiatan kesenian dan pameran kerajinan siswa. Akan tetapi, jenis kelas ini juga masih menimbulkan masalah. Banyak siswa kurang memberi perhatian di kelas dan tugas-tugas sekolah tidak diselesaikan dengan baik atau tugas tersebut dikerjakan secara acak-acakan. Hal ini dapat terjadi walaupun guru memberi kegiatan akademik yang minimal dan mencoba semaksimal mungkin agar kegiatan akademik tersebut menyenangkan.
Jenis kelas yang tenang dan disiplin, baik krena guru telah menciptakan banyak aturan maupun meminta agar aturan tersebut dipatuhi. Pelanggaran langsung dicatat dan diikuti dengan peringatan tegas, dan bila perlu disertai dengan hukuman. Guru sering menghabiskan banyak waktu dengan melakukan hal ini karena ia dengan cepat dapat memerhatikan bentuk pelanggaran . Ia tampak berhasil menanamkan disiplin karena siswa biasanya patuh. Akan tetapi, suasana kelas menjadi tidak nyaman. Keterangan yang demikian ,hanya tampak dipermukaan saja karena ketika guru meninggalkan kelas, kelas akan menjadi gaduh dan kacau.
Jenis kelas yang mengelinding dengan sendirinya. Guru menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengejar dan tidak untuk menegakkan disiplin. Siswa mengikuti pelajaran dan menyelesaikan tugas dengan kemauannya sendiri tanpa harus dipelototi oleh guru. Siswa yang tampak terlibat dal tugas pekerjaan saling berinteraksi sehingga suara muncul dari beberapa tempat secara bersamaan. Akan tetapi suara tersebut dapat dikendalikan. Dan para siswa menjadi giat serta serta tidak saling menganggu. Apabila suara timbul dan terasa sedikit menganggu, guru memberi sedikit peringatan dan kelas menjadi tenang atau kondusif. Siapapun akan melihat kelas semacam ini begitu hangat dan menghasilkan prestasi yang membanggsakan.
2.1.4 Prinsip-Prinsip Pengelolaan Kelas
Prinsip-prinsip menurut Djamar dalam Sunaengsih (2018:105), antara lain :
1. Hangat dan antusias.
2. Tantangan.
3. Bervariasi.
4. Keluesan.
5. Penekanan pada hal-hal yang positif.
6. Penanaman disiplin diri.
Sedangkan menurut Hasibuan dan Mudjono, mengemukakan beberapa prinsip yang harus di perhatikan dalam pengelolaan kelas diantaranya yaitu:
1. Kehangatan dan keantusiasan.
2. Penggunaan bahan-bahan yang menantang akan meningkatkan gairah belajar siswa.
3. Perlu dipertimbangkan variasi media,gaya mengajar, dan pola interaksi.
4. Diperlukan keluesan tingkah laku guru dalam mengubah strategi mengajarnya untuk mencegah gangguan-gangguan yang timbul.
5. Penekanan pada hal positif dan menghindari pemusatan perhatian siswa pada hal negative.
6. Mendorong siswa untuk mengembangkan disiplin diri sendiri dengan cara memberi contoh dalam perbuatan guru sehari-hari.
The educational application of emotional research is still in its infancy. Some general principles to guide classroom applications are:
1. Seek to develop form of self-control among students and staff that encourages nonjudgemental, nondisruptive venting of emotions.
2. Schools should focus more on metacognitive activities that encourage students to talk abouth their emotions, listen to their classmates’feelings.
3. Activities that emphasize social interaction and that engage the entire body tend to provide the most emotional support.
4. School avtivities that draw out emotions-stimulations,role playing, and cooperative project may provide important contextual memory prompts.
5. Emotionally stressfull school environments are counterproductive because they can reduce a students ability to learn (Taylor.2003:10-11).
Perencanaan pengelolaan kelas meliputi penataan ruangan dan mengorganisasi anak sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam mengelola kelas adalah sebagai berikut :
1. Kurangi kepadatan pada daerah lalu lalang anak-anak beraktifitas.
2. Posisi guru dapat dengan mudah melihat semua siswa.
3. Materi pembelajaran dan perlengkapan anak harus mudah diakses agar dapat meminimalisir waktu persiapan dan perapi.
4. Semua anak harus duduk pada tempatnya dan dapat melihat seluruh ruangan dengan mudah.
5. Menata sarana dan prasarana di dalam ruangan harus disesuaikan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan.
6. Mengelola meja dan kursi anakharus bersifat fleksibel dan berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan anak.
7. Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk ditempelkan beberapa sumber belajar dan hasil kerja anak.
8. Peletakan alat permainan edukatif atau alat peraga haruslah diletakan sedemikian rupa sesuai dengan fungsinya.
9. Alat bermain untuk kegiatan pengaman diletakkan didalam kelas sehingga berfungsi apabila diperlukan oleh anak-anak (Pangastuti.2017:39-40).
A variety of specific strategies and general pratices that met the criteria for being “avidence-based” were found and grouped into five critical features of effective classroom management.
1. Maximise structure through the use of teacher directed activities,explicity defined rountines and the physical classroom arrangement in term of good spacing of cluster of desks and visual display.
2. Estabilishing expectasion and teaching social skills by identifying and defining a small number of positively state rules of arrangement and then ensuring that these are well taught, modeled, reviewed and supervised by the teacher moving around the room.
3. Actively engage students in their learning in order to minimizemisbehaviours by using a variety of instructional techniques.
4. Acnowwledging apporiate behaviours by using a range of strategies that focus on identifiying and recognizing apporiate classroom behviours through the use of both individual and group encouragement.
5. Using a range of strategis to respon to misbehaviours form low-key technique to remind and redirect the behaviours (Egeberg add all.2016:6-7).
2.1.5 Pendekatan Pengelolaan Kelas
Keharmonisan hubungan guru dengan peserta didik, tingginya kerjasama diantara peserta didik tersimpul dalam bentuk interaksi. Karena itu there are many forms of interaction between teacher and pupils, and betweenpupils, Lahirnya interaksi yang optimal tentu saja bergantung dari pendekatan yang guru lakukan dalam rangka pengelolaan kelas agarpembelajaran menjadi efektif.
Menurut Syaiful Bahri pendekatan tersebut meliputi pendekatan kekuasaan, pendekatan ancaman, pendekatan kebebasan, pendekatan resep, pendekatan pembelajaran , pendekatan perubahan tingkah laku, pendekatan suasana emosi dan hubungan sosial, pendekatan proses kelompok dan pendekatan elektis atau pluralistik.(zahro,2015:182).
In student-centered classroom management approaches, the teacher gets to know his/her students, share their ideas and their management approaches allow them and students to see one another as people. Person-centered teachers share leadership and teachers and students determine shared norms and begin to establish trust in the classroom ,positive student-teacher relationships presumably lessen the need for control and become the foundation for all interaction in the classroom( Llego,2017:1804).
Pendekatan Kekuasaan
Pengelolaan kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Peranan guru disini adalah menciptkan dan mempertahankan situasi disiplin kelas. Kedisiplinan adalah kekuatan yang menuntut kepada peserta didik untuk menaatinya. Di dalamnya ada kekuasaan dalam norma yang mengikat untuk ditaati anggota kelas. Melalui kekuasaan dalam bentuk norma itulah guru mendekatinya.
Di dalam kegiatan pembelajaran, factor kedisiplinan adalah kekuatan utama untuk dapat menciptakan suasana belajar yang kondusif, karena itu guru perlu menekankan pentingnya peserta didik untuk menaati peraturan yang telah dibuat sebelumnya. Berbagai peraturan itu ibaratnya adalah “penguasa” yang wajib untuk ditaati. Oleh sebab itu, guru harus mampu melakukan pendekatan yang baik kepada peserta didik melalui peraturan ini, dan bukan kemauannya sendiri Alangkah lebih baik jika sebelum memulai mengajar, guru membuat kesepakatan-kesepakatan dengan peserta didik mengenai keharusan untuk menaati aturan. Namun, tak hanya peserta didik, guru juga harus konsisten mengikuti segala peraturan yang ditetapkan agar tidak timbul kecemburuan diantara para peserta didik (zahro,2015:182).
Pendekatan Ancaman
Dari pendekatan ancaman atau intimidasi ini, pengelolaan kelas juga sebagai suatu proses untuk mengontrol tingkah laku peserta didik. Tetapi dalam mengontrol tingkah laku peserta didik dilakukan dengan cara memberikan ancaman, misalnya, melarang, ejekan, sindiran, dan memaksa. Ancaman disini sepatutnya tidak dilakukan sesering mungkin dan hanya diterapkan manakala kondisi kelas sudah benar-benar tidak dapat dikendalikan. Selama guru masih mampu melakukan pendekatan lain di luar ancaman, maka akan lebih baik jika pendekatan dengan ancaman ini ditangguhkan. Namun satu hal yang harus diingat, pendekatan ancaman harus dilakukan dalam taraf kewajaran dan diusahakan untuk tidak melukai perasaan peserta didik.
Guru mungkin perlu memberi ancaman seperti penangguhan nilai, pemberian tugas tambahan, serta memberikan tugas-tugas lain yang sifatnya mendidik bagi mereka. Ancaman dalam bentuk intimidasi yang berlebihan, seperti mengejek, membanding-bandingkan, memukul dan memaksa, sebaiknya difikirkan ulang sebelum diterapkan. Sebab ancaman seperti itu sangat mungkin dapat melukai perasaan peserta didik serta menyebabkan mereka semakin bertindak represif di dalam kelas. Sindiran halus juga dapat dilakukan oleh guru terhadap peserta didik yang kurang menaati aturan. (zahro,2015:183).
Pendekatan Kebebasan
Pengelolaan diartikan sebagai suatu proses untuk membantu peserta didik agar merasa bebas untuk mengerjakan sesuatu kapan dan dimana saja. Peranan guru adalah mengusahakan semaksimal mungkin kebebasan peserta didik, selama hal itu tidak menyimpang dari peraturan yang telah ditetapkan dan disepakati bersama. Terkadang, peserta didik tidak nyaman apabila ada seorang guru yang terlalu over-protectif sehingga peserta didik tidak leluasa melakukan eksperimennya. Jika memberikan tugas kepada peserta didik untuk menuliskan beberapa pengalaman, maka berilah mereka kebebasan untuk menceritakan apa saja yang mereka tuliskan. Jangan membuat ketentuanketentuan yang terlalu ketat yang karenanya dapat mengekang kebebasan peserta didik untuk mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya.(zahro,2015:183-184).
Pendekatan Resep Pendekatan resep (cook book)
Pendekatan resep (cook book) ini dilakukan dengan memberi satu daftar yang dapat menggambarkan apa yang harus dan apa yang tidak boleh dikerjakan oleh guru dalam mereaksi semua masalah atau situasi yang terjadi di kelas. Dalam daftar itu digambarkan tahap demi tahap apa yang harus dikerjakan oleh guru. Peranan guru hanyalah mengikuti petunjuk seperti yang tertulis dalam resep (Rofiq,2009:32).
Pendekatan Pengajaran
Pendekatan ini didasarkan pada suatu anggapan bahwa dengan suatu perencanaan dan pelaksanan pengajaran akan mencegah munculnya masalah tingkah laku siswa dan memecahkan masalah itu bila tidak bisa dicegah. Pendekatan ini menganjurkan tingkah laku guru dalam mengajar untuk mencegah atau menghentikan tingkah laku siswa yang kurang baik. Peranan guru adalah merencanakan dan mengimplementasikan pengajaran yang baik.(sunhaji,2014:40).
Pendekatan Pengubahan Tingkah Laku (Behavior Modification)
Sesuai namanya, pengelola kelas diartikan sebagai suatu proses untuk mengubah tingkah laku siswa. Peranan guru adalah mengembangkan tingkah laku siswa yang baik dan mencegah tingkah laku yang kurang baik(sunhaji,2014:40).
Pendekatan Sosial Emosional
pendekatan ini pengelola kelas merupakan proses menciptakan iklim sosial, emosional positif dalam kelas. Sosiol emosional positif, artinya ada hubungan baik yang positif antara guru dan siswa atau antara siswa dengan siswa. Di sini guru adalah terhadap pembentukan hubungan pribadi itu. Peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang baik. (sunhaji,2014:40).
Pendekatan Suasana Emosi dan Hubungan Sosial
Pendekatan pengelolaan kelas berdasarkan suasana perasaan dan suasana sosial (socio-emotional climate approach) di dalam kelas sebagai kelompok individu cenderung pada pandangan psikologi klinis dan konseling (penyuluhan). Menurut pendekatan ini pengelolaan kelas merupakan suatu proses menciptakan iklim atau suasana emosional dan hubungan sosial yang positif dalam kelas. Suasana emosional dan hubungan sosial yang positif, artinya ada hubungan yang baik dan positif antara guru dengan peserta didik, atau antara peserta didik dengan peserta didik. Di sini guru adalah kunci terhadap pembentukan hubungan pribadi itu, dan peranannya adalah menciptakan hubungan pribadi yang sehat. (zahro,2015:186).
Pendekatan Pluralistik
Pengelola kelas berusaha menggunakan berbagai macam pendekatan yang memiliki potensi untuk dapat menciptakan dan belajar mengajar berlangsung efektif dan efisien. Guru dapat memilih 8 (delapan) pendekatan di atas dan ia bebas memilih pendekatan yang sesuai yang dapat dilaksanakan. Jadi pengertian kelas adalah suatu set (rumpun) kegiatan guru dan untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi kelas yang memberi kemungkinan proses belajar mengajar berjalan secara efektif dan efisien(sunhaji,2014:41).
2.1.6 Masalah-masalah dalam Pengelolaan Kelas
A. Masalah dalam Pengelolaan Kelas
Menurut Ranchman (dalam Cucun Sunaengsih. 2017: 17-18) terdapat beberapa faktor atau sumber yang dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah yang dapat menggaggu terpeliharanya disiplin dalam suatu mangemen kelas. Faktor tersebut dapat diklasifikasikan kedalam tiga kategori umum yaitu masalah-masalah yang ditimbulkan oleh guru, siswa, dan lingkungan. Berikut pemaparannya:
a. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh guru
Pribadi guru sangat mempengaruhi terciptanya suasana disiplin kelas yang efektif, berikut yang dapat menimbulkan masalah didalam kelas terganggu:
Guru membiarkan peserta didik berbuat salah
Lebih mementingkan mata prlajaran dari pada pesrta didik
Kurang menghargai pada peserta didik
Kurang adanya rasa humor saat pembelajaran dikelas
Kata-kata atau sindiran tajam yang menimbulkan rasa malu siswa
Kegagalan menjelaskan tujuan pembelajaran kepada peserta didik
Gagal menditeksi atau memahami perbedaan individu peserta didik
Berbicara menggumam atau tidak jelas
Memberi tugas yang berat dan kompleks
Tidak memberikan umpan balik kepada hasil krja peserta didik
b. Masalah-masalah yang ditimbulkan peserta didik
beberapa hal berikut ini cenderung memberikan kontribusi timbulnya masalah kelas terganggu, yaitu:
Anak yang suka “membadut” atau berbuat yang aneh semata-mata untuk menarik perhatian dikelas
Anak broken home yang butuh akan perhatian
Anak yang sakit
Anak yang tidak mengerjakan tugas-tugas sekolah
Anak yang memiliki rasa bermusuhan atau menentang terhadap peraturan
Anak yang memiliki masalah pesimis terhadap semua keadaan
Anak yang berkeinginan berbuat segalanya dikuasai secara “sempurna”
c. Masalah-masalah yang ditimbulkan lingkungan
Lingkungan secara langsung atau tidak langsung, situasi atau kondisi yang mengelilingi peserta didik dapat menimbulkan masalah dikelas, yaitu:
Lingkungan rumah/keluarga, seperti: kurang perhatian, ketidak teraturan, pertengkaran, tekanan, masa bodoh, sibuk urusannya masing-masing.
Lingkungan tempat tinggal, seperti: lingkungan criminal, lingkungan bising, lingkungan minuman keras, dan sebagainya.
Lingkungan sekolah, seperti: kelemahan guru, kelemahan kurikulum, kelemahan manajemen kelas, ketidak tertiban, kekurangan fasilitas.
Situasi sekolah, seperti: hari-hari akan libur atau sesudah libur, pergantian pelajaran, pergantian guru, jadwal yang kaku, bau-bau yang timbul baik dari kantin atau toilet, suara bising disekitar kelas.
Menurut Sunaryo (dalam Sunhaji. 2014: 35-36) bahwa ” setiap guru akan mrnghadapi dua masalah pokok, yaitu masalah pengajaran dan masalah managemen. Masalah pengajaran adalah usaha membantu siswa dalam mencapai tujuan khusus pengajaran secara langsung, misalnya membuat suatu acara pembelajaran (SAP), penyajian inforasi, mengajukan pertanyaan, evaluasi dan banyak lagi. Sedangkan masalah manajemen adalah usaha untuk menciptakan dan mempertahankan kondisi sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien, misalnya memberi penguatan, mengembangkan hubungan uru-siswa, membuat aturan kelompok yang produktif”
Indiscipline is a problem normally faced by teachers which creates a hindrance in teaching process. Due to indiscipline situation students arrive late for class, are not punctual for the classes or simply bunk classes as the class is not very interesting or rather as a teacher we are unable to create interest in the class .This may be a result of lack of lesson planning .At times effective management of time is also overlooked. Non verbal cues like body language and communication skills also play a major role in making the class effective (Chandara. 2015: 13-14).
B. Pemecahan Masalah dalam Manajemen Kelas
Menurut Sunaengsih (2017:18-19) dalam setiap masalah ternyata selalu ada pemecahan masalahnya asalkan kita mau berusaha memecahkan masalah tersebut. Berkaitan dengan hal tersebut masalah dalam pengelolaan kelas juga terdapat upaya pemecahan masalah simana upaya pemecahan masalah tersebut tebagi menjadi dua yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
a. Upaya pemecahan masalah yang bersifat pencegahan
Sebelum masalah terjadi dalam pengelolaan kelas dapat dilakukan pencegahan untuk meminimalisir masalah yang terjadi. Keberhasilan dalam pencegahan dapat menjadi salah satu indikator dalam keberhasilan pengelolaan kelas. Adapun langkah-langkah dalam upaya pencegahan terhadap masalah dalam pengelolaan pendidikan dapat dirumuskan sebagai berikut:
Peningkatan kesadaran diri sebagai guru
Langkah ini merupakan langkah dasar bagi seorang guru. Kesadaran ini akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan rasa yang memiliki yang merupakan dasar bagi guru untuk melaksanakan tugasnya.
Peningkatan kesadaran peserta didik
Interaksi positif antara guru dan siswa akan menghasilkan pembelajaran yang baik, sehingga setelah timbul kesadaran guru maka kesadaran peserta didik juga harus ditingkatkan. Cara yang dapat dilakukan yaitu memberitahu hak dan kewajiban peserta didik, memperhatikan kebutuhan, keinginan dan dorongan peserta didik dan menciptakan suasana saling pengertian dan saling menghormati.
Sikap polos dan tulus dari guru
Sikap ini merupakan sikip tulus dari guru dalam pembelajaran sehingga pembelajaran dapat berjalan secara jujur tanpa adanya kebohongan dalam setiap tindakan yang diberikan guru.
Mengenal alternatif pengelolaan
Langkah yang dilakukan yaitu melakukan tindakan identifikasi sebagai penyimpangan tingkah laku peserta didik yang bersifat individual maupun kelompok, mengenal berbagai penekatan dalam manajemen kelas dan mempelajari pengalaman guru lain yang berhasil atau gagal dalam pelaksanaan pembelajaran yang dapat digunakan sebagai cermin dari cara guru melakukan pembelajaran
Menciptakan kontak sosial
Kontak sosial berkaitan dengan standar tingkah laku yang diharapkan dapat memberikan gambaran tentang keterbatasannya dalam memfasilitasi kebutuhan peserta didik, sehingga dalan menentukan norma atau peraturan diperlukan adanya kontak sosial lebih dahulu kepada peserta didik.
b. Upaya yang bersifat penyembuhan
Adapun langkah-langkah penyelesaian masalah dapat dilkukan melalui langkah berikut:
Mengidentifikasi masalah
Mengidentifakasi jenis penyimpangan dan mengetahui yang melatar belakangi masalah yang terjadi.
Menganalisis masalah
Setelah mengenali masalah maka muali menentukan alternatif dalam penyelesaian masalahnya.
Menilai alternatif pemecahan masalah
Menilai atau memilih alernatif yang dianggap mampu dan dapat menanggulangi masalah yang terjadi.
Mendapatkan balikan
Melaksanakan monitoring dengan maksud mengetahui kemampuan alternatif pemecahan masalah dengan masalah yang terjadi.
Menurut Pasikha (2017:55) tindakan pencegahan atau preventif adalah tindakan untuk menyediakan kondisi fisik dan emosional sehingga siswa merasa nyaman dalam belajar. Adapun tindakan korektif adalah tindakan yang berusaha untuk memperbaiki tingkah laku siswa yang menyimpang dan merusak kondisi optimal bagi PBM. Hal ini yang terkait erat dengan masalah kedisiplinan. Dan peran guru sangat penting dalam pengelolaan kelas untuk mampu menangani masalah siswa sebab disiplin adalah kunci sukses dalam segala hal. Dari kedisiplinan akan timbul sifat teguh dalam memegang prinsip, tekun dalam usaha, gigih dalam membela kebenaran serta pantang berputus asa.
Komentar
Posting Komentar